Minggu, 16 Desember 2012

HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN PRILAKU DENGAN KEJADIAN KLB MALARIA


ABSTRAK

FAKTOR RISIKO KEJADIAN MALARIA

Latar Belakang :
Malaria merupakan penyakit menular dan mematikan yang sangat dominan di
daerah tropis dan sub-tropis . Di Indonesia saat ini malaria masih menjadi
masalah, rata-rata kasus diperkirakan 15 juta kasus klinis per tahun.
Tujuan penelitian :
 menganalisa faktor kejadian malaria dan mengukur besarnya berbagai faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian malaria. Penelitian ini menggunakan desain case control atau retrospective study , untuk mencari hubungan faktor risiko meliputi lingkungan dalam rumah, lingkungan luar rumah dan perilaku (praktik) mempengaruhi terjadinya penyakit (cause-effect relationship) malaria. Kelompok kasus adalah semua orang yang dinyatakan malaria klinis, sedangkan kontrol adalah semua orang yang dinyatakan bebas malaria. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 152 orang responden, sampel kasus diambil secara acak sebanyak 76 orang dan kontrol juga 76 orang.
Hasil  penelitian :
analisis bivariat yang menjadi faktor risiko adalah : kerapatan dinding (OR= 5,11, 95% Cl= 2,419-10,787), kasa pada ventilasi (OR= 6,50, 95% Cl= 3,197-13,215), kondidi langit-langit (OR= 4,72, 95% Cl= 2,378-9,371), genangan air (OR= 3,128, 95% Cl= 1,611-6,075), keluar malam hari (OR= 4,69, 95% Cl= 2,369-9,303), dan menggunakan kelambu (OR= 7,84, 95% Cl= 3,427-17,969). Dari analisis multivariat didapatkan faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian malaria adalah kerapatan dinding, keberadaan kasa, keberadaan langitlangit, kebiasaan di luar rumah malam hari, dan penggunaan kelambu. Faktor
yang paling dominan adalah keberadaan kain kasa pada ventilasi dengan p= 0,0001 Confidence Interval (CI) 95% = 2,234-13,786. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bila diding rumah tidak rapat, ventilasi tidak punya kasa, rumah tidak punya langit-langit, diluar rumah malam hari dan tidur tidak memakai kelambu memiliki probabilitas/ kemungkinan berisiko terkena malaria sebesar 97 %. Untuk memperkaya hasil penelitian, diharapkan ada penelitian sejenis memfokuskan penelitian terhadap faktor-faktor lain yang belum ada dalam penelitian ini.

















A.      Latar Belakang
Malaria merupakan penyakit menular yang sangat dominan di daerah tropis dan sub-tropis dan dapat mematikan. Setidaknya 270 juta penduduk mdunia menderita malaria dan lebih dari 2 miliar atau 42% penduduk bumi memiliki risiko terkena malaria. WHO mencatat setiap tahunnya tidak kurang dari 1 hingga 2 juta penduduk meninggal karena penyakit yang disebarluaskan nyamuk Anopheles. Di Indonesia saat ini, malaria juga masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat. Rata-rata kasus malaria diperkirakan sebesar 15 juta kasus klinis per tahun. Penduduk yang terancam malaria adalah penduduk yang umumnya tinggal di daerah endemic malaria, diperkirakan jumlahnya 85,1 juta dengan tingkat endemisitas rendah, sedang, dan tinggi. Penyakit malaria 60 persennya menyerang usia produktif.i Propinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan propinsi yang ke 33 Republik Indonesia dengan jumlah penduduk ± 1.106.657 jiwa yang tersebar di 7 Kabupaten/ Kota. Setiap Kabupaten/Kota termasuk daerah endemis malaria dan mempunyai geografis yang hampir sama dalam hal tempat perindukan nyamuk penular malaria (Anopheles), seperti kolong-kolong bekas galian timah, kebun kelapa, kebun lada, semak, rawa, cekungan batuan daerah perbukitan, dan air tergenang di pinggir pantai.ii Kasus malaria klinis atau AMI (Annual Malaria Incidence) 4 tahun terakhir di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2004 AMI sebesar 27,77 per 1000 penduduk
meningkat menjadi 36,09 per 1000 penduduk pada tahun 2007. Untuk angka SPR (Slide Positive Rate) dari 36,09% pada tahun 2004 meningkat menjadi 38,51% pada tahun 2007.iii
Kasus malaria klinis di Kabupaten Bangka pada tiga tahun terakhir mengalami peningkatan, dimana kasus malaria klinis pada tahun 2004 dari 47,18 per 1000 penduduk meningkat menjadi 63,79 per 1000 penduduk. Untuk angka SPR terjadi juga peningkatan yang berarti dari 39,0% pada tahun 2004 meningkat menjadi 58,30% pada tahun 2006.Kasus malaria klinis di wilayah kerja Puskesmas Kenanga pada 4 tahun terakhir terjadi peningkatan, dimana AMI 22,81 per 1000 penduduk tahun 2004 meningkat menjadi 22,91 per 1000 penduduk tahun 2005, dan meningkat lagi menjadi 27,01 tahun 2006, sedangkan pada tahun 2007 terjadi penurunan menjadi 23,42 per 1000 penduduk. Angka SPR selama 4 tahun terakhir berfluktuasi yaitu tahun 2004 SPR 28,70% dan menurun menjadi 26,10 tahun 2005, pada tahun 2006 terjadi lagi peningkatan menjadi 37,50%, dan pada tahun 2007 menurun menjadi 25,90%. Selama kurun waktu 4 tahun berturut-turut AMI di wilayah Puskesmas Kenanga berada pada urutan ke 6 dari 10 Puskesmas yang ada di Kabupaten Bangka. Dilihat AMI di 3 desa yang ada tidak menunjukkan penurunan yang berarti,bahkan ada satu desa
yang AMI masih diatas 90 per 1000 penduduk dengan kegiatan pengendalian vector, melakukan pengobatan pada penderita.
B.      Rumusan Masalah
Faktor Risiko Fisik apa Saja yang Berhubungan dengan Kejadian Malaria ?
C.      Tujuan Penelitian
Menganalisa faktor-faktor risiko kejadian malaria dan mengukur besarnya berbagai faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian malaria
D.      Manfaat penelitian
Ø  Bagi Dinas Kesehatan
Sebagai masukan bagi pengelola program dalam mengetahui faktor-faktor
risiko kejadian malaria di Kabupaten Bangka pada umumnya dan wilayah
kerja Puskesmas Kenanga pada khususnya, sehingga pengambil keputusan
dapat menyusun rencana strategis yang efektif dalam penanganan malaria.
Ø  Bagi Peneliti lain
Sebagai bahan informasi tambahan bagi lembaga-lembaga penelitian dan
peneliti-peneliti lain untuk mengembangkan serta melakukan penelitian lebih lanjut.
Ø  Bagi Masyarakat
Sebagai informasi tambahan untuk mengetahui faktor risiko kejadian malaria yang berada di lingkungan mereka, agar mereka lebih peduli terhadap lingkungan sekitar mereka
Ø  Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Sebagai bahan referensi bagi para peneliti lain tentang kondisi lingkungan dalam rumah, lingkungan luar rumah, kualitas air tempat perindukan   nyamuk (breeding places) dan perilaku penduduk terhadap kejadian malaria.
E.       Tinjaun pustaka
Pengertian Malaria Istilah malaria diperkenalkan oleh Francisco Totti (Itali) yang artinya udara kotor. Malaria adalah suatu penyakit kawasan tropika yang biasa tetapi apabila diabaikan juga dapat menjadi serius, seperti malaria jenis Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan kematian. Ia adalah suatu serangga protozoa yang dipindahkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina terutama pada waktu terbit dan terbenam matahari. Penyakit malaria juga dapat dikatakan sebagai penyakit yang muncul kembali (re-emerging disease). Hal ini disebabkan oleh pemanasan global yang terjadi karena polusi akibat ulah manusia yang menghasilkan emisi dan gas rumah kaca, seperti CO2, CFC, CH3, NO, perfluoro carbon dan carbon tetra fluoride yang menyebabkan atmosfer bumi memanas dan merusak lapisan ozon, sehingga radiasi matahari yang masuk ke bumi semakin banyak dan terjebak di lapisan bumi karena terhalang oleh rumah kaca, sehingga temperatur bumi kian memanas dan terjadilah pemanasan global.viii Akibat pemanasan global adalah menipisnya lapisan ozon yang mengakibatkan terjadinya degradasi lingkungan, keterbatasan sumber air bersih, kerusakan rantai makanan di laut, musnahnya ekosistem terumbu karang dan sumber daya laut lainnya. Dampak berikutnya adalah terjadinya pemanasan global (global warming). Pemanasan global yang terjadi saat ini
mengakibatkan penyebaran penyakit parasitik yang ditularkan melalui nyamuk dan serangga lainnya semakin mengganas. Perubahan temperatur, kelembaban nisbi, dan curah hujan yang ekstrim mengakibatkan nyamuk lebih sering bertelur sehingga vector sebagai penular penyakit pun bertambah dan sebagai dampak muncul berbagai penyakit, diantaranya demam berdarah dan malaria.
F.       Metodelogi Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu penelitian , patokan
dugaan atau dalil sementara yang akan dibuktikan dalam suatu penelitian.
Jadi hipotesis dari penelitian ini adalah :
Ø  Ada hubungan antara faktor risiko lingkungan dalam rumah (kondisi
dinding rumah, keberadaan kasa pada ventilasi, keberadaan langit-langit
rumah, dan keadaan/ bahan atap rumah ) dengan kejadian malaria di
kabupaten kukar kecamatan tengarong tahun 2012
Ø  Ada hubungan antara faktor risiko lingkungan luar rumah (Keberadaan
kolong, keberadaan genangan air, keberadaan kandang ternak, dan
keberadaan semak-semak) dengan kejadian malaria di kabupaten kukar kecamatan tengarong tahun 2012
Ø  Ada hubungan antara faktor risiko perilaku (kebiasaan berada di luar
rumah pada malam hari, kebiasaan menggunakan kelambu, kebiasaan
menutup pintu dan jendela, kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk dan
kebiasaan menggunakan repellent) dengan kejadian malaria

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar